15 tahun sejak diperkenalkan client/ server telah menjadi pilihan dalam arsitektur
aplikasi. Client/ server diaplikasikan pada aplikasi mainframe yang sangat besar
untuk membagi beban proses loading antara client dan server. Sebagai dampaknya
client/ server telah mengubah cara/ pola pikir kita dalam men-desain dan
membangun aplikasi. Dan ini sangat membantu end-user dalam peng-harapan
tentang “the look and feel” dari multiuser software.
Dalam perkembangannya, client/ server dikembangkan oleh dominasi perusahaanperusahaan
software besar yaitu Baan, Informix, Lotus, Microsoft, Novell, Oracle,
PeopleSoft, SAP, Sun, dan Sybase. Perusahaan-perusahaan ini adalah superstar
pada era pertama dimunculkannya konsep client/ server. Saat ini perusahaanperusahaan
ini telah menjadi perusahaan komputer yang stabil dan besar.
Saat ini telah terjadi perubahan besar dari konsep client/ server itu sendiri. Awalnya
pengertian client/ server yaitu sebuah sistem yang saling berhubungan dalam sebuah
jaringan yang memiliki dua komponen utama yang satu berfungsi sebagai client dan
satunya lagi sebagai server atau biasa disebut 2-Tier. Dengan adanya internet dan
jaringan maka konsep 2-tier ini mulai bergeser dan berkembang menjadi 3-tier.
Apa yang dimaksud dengan Tier?
Awal 1980-an, vendor-vendor minicomputer memperkenalkan pola 3-tier (sebagai
arsitektur 3-tier) untuk menjelaskan pembagian secara fisik dari sebuah aplikasi yang
melalui terminal (tier ke-1), minicomputer (tier ke-2), dan mainframe (tier ke-3). Ini
memberikan kesempatan pada vendor-vendor ini untuk menjual komputer level
menengah (mid-range) mereka sebagai front-end untuk mainframe.
Hari ini, kita menggunakan istilah tier untuk menjelaskan pembagian sebuah aplikasi
yang melalui client dan server. Pembagian proses kerja adalah bagian uatama dari
konsep client/ server saat ini. Jadi saat ini pembagian kerja pada client dan server
telah diatur secara lebih spesifik.
2-tier. Membagi proses load kedalam dua bagian. Aplikasi utama secara
logika dijalankan/ berjalan pada sisi client yang biasanya mengirimkan
request dalam bentuk sintaks SQL ke sebuah database server yang berfungsi
sebagai media penyimpanan data. Kita bisa juga menyebutnya dengan
arsitektur fat client karena bagian terbesar atau yang utama dari aplikasi
berjalan pada sisi client/ komputer client.
3-tier. Membagi proses loading antara 1) komputer client menjalankan
graphical user interface (GUI) logic, 2) aplikasi server menjalankan business
logic, dan 3) database dan/ atau legacy application. Karena 3-tier
memindahkan application logic ke server sehingga sering juga disebut
sebagai arsitektur fat server.
Keuntungan dan keterbatasan aplikasi 2-tier
Pada sistem 2-tier client/ server, aplikasi logic ditempatkan pada sisi client dengan
GUI. GUI dijalankan pada client yang akan mengirimkan SQL, file system calls, atau
perintah HTTP melalui jaringan ke server. Kemudian server akan mem-proses
request dari client dan mengembalikan hasil proses tersebut kembali ke komputer
client. untuk meng-akses datanya, komputer client harus mengetahui bagaimana data
tersebut diatur dan kemudian disimpan pada sisi server. Variasi pada pendekatan 2-
tier adalah dengan menggunakan stored procedures untuk meng-off-load beberapa
proses pada sisi server. Walaupun pengiriman request SQL melalui jaringan, stored
procedures membolehkan kita untuk menjalankan sebuah fungsi yang berjalan tanpa
sebuah database.
Kesederhanaan adalah faktor utama yang mengantarkan 2-tier client/ server menjadi
populer. 2-tier sangat ideal digunakan jika kita ingin membangun sebuah aplikasi
dengan cepat dengan menggunakan bantuan visual builder tools seperti Delphi, VB,
dll. Biasanya, hanya aplikasi yang berskala departemen/ bagian-bagian kecil yang
menggunakan konsep 2-tier ini seperti sistem pengambilan keputusan (DSS) atau
aplikasi berbasis web sederhana.
Sabtu, 04 April 2009
2 Tier dan 3 Tier
Diposting oleh icadmusca di 19.46
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar